Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia —
Kanker ginjal menjadi salah satu penyakit serius yang sering kali baru terdeteksi saat Sebelumnya memasuki tahap lanjut. Padahal, deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat Mengoptimalkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Dokter Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal A.H. Hamid menjelaskan bahwa kanker ginjal berbeda dengan gagal ginjal kronis yang selama ini kerap disalahpahami masyarakat.
“Kanker ginjal Merupakan pertumbuhan sel-sel ginjal yang abnormal Sampai saat ini menjadi ganas. Sementara gagal ginjal kronis merupakan kegagalan fungsi ginjal dalam menyaring darah secara sempurna,” ujar Agus dalam acara temu media yang digelar Eka Hospital BSD di Jakarta, Selasa (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor risiko dan usia penderita
Seperti kanker pada umumnya, kanker ginjal muncul akibat berbagai faktor. Agus menyebut Sebanyaknya faktor risiko yang Harus diwaspadai, mulai dari kebiasaan merokok, obesitas, hipertensi, Sampai saat ini metabolic syndrome.
Kondisi metabolic syndrome biasanya ditandai dengan kadar gula darah dan kolesterol yang tinggi. Faktor genetik Bahkan turut berperan dalam Mengoptimalkan risiko seseorang mengidap kanker ginjal.
Soal usia, kanker ginjal tidak hanya menyerang kelompok lanjut usia. Meski prevalensinya memang lebih tinggi pada orang tua, kanker ini Bahkan bisa muncul sejak usia muda, terutama pada individu yang memiliki kerentanan genetik.
“Kalau seseorang punya faktor genetik, kanker ginjal bisa muncul sejak usia muda,” kata Agus.
Proses Terapi kanker ginjal
Penanganan kanker ginjal sangat bergantung pada stadium dan luas penyebaran tumor. Seandainya kanker masih terbatas di area ginjal, dokter dapat melakukan operasi pengangkatan tumor saja. Meskipun demikian demikian, bila ukuran tumor Sebelumnya besar, pengangkatan ginjal secara keseluruhan Bisa jadi diperlukan.
Sementara itu, Seandainya kanker Sebelumnya menyebar ke organ lain, pasien umumnya memerlukan terapi lanjutan berupa imunoterapi. Agus menegaskan bahwa kemoterapi Sekarang bukan lagi pilihan utama dalam Terapi kanker ginjal.
Meski Sebelumnya menjalani operasi, risiko kekambuhan Bahkan tetap ada. “Saat operasi bisa saja ada sel tumor yang tertinggal dan kemudian tumbuh kembali,” ujarnya.
Karena itu, Agus menyarankan kelompok berisiko untuk rutin melakukan screening kesehatan.
“Pasien dengan obesitas, hipertensi, atau kebiasaan merokok sebaiknya melakukan screening Seandainya muncul gejala. Begitu Bahkan mereka yang punya riwayat keluarga dengan kanker ginjal,” katanya.
Bedah robotik untuk pasien kanker dan tumor ginjal
Kabar baik Bahkan datang bagi pasien kanker di Indonesia. Sekarang, pasien tak Harus lagi ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan modern. Eka Hospital MT Haryono Sebelumnya menghadirkan teknologi bedah robotik Da Vinci XI, sistem bedah minimal invasif yang memungkinkan tindakan dilakukan dengan presisi tinggi.
Meski kerap disebut robot, Da Vinci XI tetap sepenuhnya dikendalikan oleh dokter spesialis. Teknologi ini Membantu dokter menjangkau area operasi yang sulit tanpa Harus membuat banyak sayatan besar.
Sistem Da Vinci XI terdiri dari tiga komponen utama. Pertama, sistem audiovisual yang memungkinkan dokter melihat area operasi dengan sangat jelas. Kedua, patient cart dengan empat lengan robot yang berada langsung di atas pasien.
“Ketiga, surgical console, tempat dokter duduk dan mengendalikan pergerakan lengan robot secara ergonomis,” kata Ia.
Melalui konsol ini, dokter dapat melihat kondisi organ pasien dalam tampilan tiga dimensi (3D), sehingga pergerakan alat menjadi lebih presisi dan bebas tremor.
Keunggulan operasi robotik
Perbedaan utama antara operasi robotik dan laparoskopi konvensional terletak pada kestabilan dan fleksibilitas alat. Lengan robot Da Vinci XI mampu berputar dan meliuk menyerupai tangan manusia, sehingga sayatan dapat dilakukan lebih akurat tanpa risiko tremor atau kelelahan tangan.
Keunggulan lainnya, sistem ini dilengkapi empat lengan robot, memungkinkan satu dokter melakukan tindakan yang biasanya membutuhkan dua operator.
Bagi pasien, operasi robotik Menyajikan masa pemulihan yang lebih Mudah karena sayatan minimal dan tingkat presisi yang tinggi. Rendahnya angka komplikasi pascaoperasi Bahkan membuat banyak pasien dapat keluar dari rumah sakit lebih Mudah dibandingkan operasi konvensional.
“Teknologi robotik merupakan bagian dari masa depan dunia kedokteran. Kami berupaya terus mengadopsi kemajuan medis Supaya bisa pasien di Indonesia bisa mendapatkan perawatan Unggul tanpa Harus berobat ke luar negeri,” tutupnya.
(tis/tis)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











