Jakarta, CNN Indonesia —
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita tengah menggencarkan kembali upaya pemberian insentif bagi industri otomotif nasional pada 2026. Langkah ini diambil di tengah tekanan pada sektor otomotif, terutama akibat daya beli yang menurun.
Menurut Agus usulan baru insentif dan stimulus bagi sektor otomotif dibuat lebih komprehensif, dan menjadi salah satu upaya pemerintah melindungi tenaga kerja pada industri padat modal itu.
Penyusunan usulan insentif diklaim Sudah melalui proses panjang dan melibatkan pelaku industri, dalam hal ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Usulan Bahkan memperhitungkan aspek biaya dan keuntungan bagi negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi usulan tersebut diakui Sudah menjadi bahan diskusi lintas pemangku kepentingan, dengan harapan segera Berniat terealisasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berikut daftar wacana insentif otomotif 2026:
Skema insentif Mengikuti TKDN
Agus bilang usulan insentif baru lebih terukur dibandingkan skema pada masa Virus Corona. Penjelasan Ia insentif yang diusulkan kali ini Sudah disusun secara lebih detail dengan mempertimbangkan berbagai aspek, misalnya segmentasi kendaraan, teknologi, Sampai sekarang Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Sejauh ini belum dapat diketahui seperti apa pola pemberian insentif termasuk besaran yang Berniat diberikan. Berbeda dari dugaan kuatnya penerima insentif haruslah kendaraan buatan Indonesia dengan TKDN minimal 40 persen.
Batas emisi
Agus Bahkan sempat menyebut penerima insentif Harus kendaraan yang memenuhi syarat terkait batasan emisi. Ini berarti insentif Bahkan berlaku buat kendaraan konvensional, hybrid dan PHEV.
Kendaraan ramah lingkungan
Usulan lain yaitu perhatian khusus terhadap pengembangan kendaraan ramah lingkungan. Belum ada kejelasan lebih lanjut dari usulan tersebut.
Penetapan batasan harga
Kementerian Perindustrian Bahkan bakal menetapkan batasan harga pada masing-masing segmen kendaraan Supaya bisa insentif yang diusulkan Sungguh-sungguh tepat sasaran.
Mengikuti baterai
Ada lagi usulan insentif dari Agus yaitu suntikan fiskal bakal lebih besar diberikan kepada produk Kendaraan Pribadi listrik yang menggunakan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) daripada Lithium Iron Phosphate (LFP).
NMC dan LFP merupakan dua bahan baku baterai jenis lithium-ion yang umum digunakan di Kendaraan Pribadi listrik. LFP sendiri terbuat dari bahan baku utama besi dan fosfat, sedangkan NMC terbuat dari nikel dan kobalt.
Kebijakan ini disinyalir guna Membantu industri baterai Mobil Listrik Indonesia, di mana bahan baku nikel dikatakan melimpah di Tanah Air.
(ryh/fea)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











