Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia —
Tidak ada yang lebih mengganggu daripada keinginan buang air besar di tengah atau setelah makan. Mengapa hal ini bisa terjadi?
Ketika makan di luar, dorongan untuk buang air besar bisa terasa tidak nyaman. Respons alami ini dikenal sebagai refleks gastrokolik, yaitu rangsangan buang air besar yang muncul hanya dalam hitungan menit setelah makan.
“Ini Merupakan Tips normal tubuh kita bekerja,” kata ahli gastroenterologi David Kunkel, dikutip dari Self.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Refleks gastrokolik terjadi untuk memberi ruang bagi makanan baru yang masuk. Karena jeda waktu yang singkat, banyak yang mengira makanan yang baru dikonsumsi langsung dikeluarkan, padahal tidak demikian.
Makanan membutuhkan waktu cukup lama untuk melewati saluran pencernaan. Buang air besar setelah makan Merupakan reaksi berantai.
Reseptor peregangan di dinding lambung merasakan peningkatan volume makanan, lalu mengirimkan sinyal ke sistem saraf otonom yang terhubung ke usus besar, menyebabkan kontraksi ritmis.
ilustrasi. Sakit perut bisa terjadi saat makan atau bahkan setelah makan. (iStock/BrianAJackson)
|
Saat tekanan ini terjadi, sisa makanan yang Sebelumnya berada di usus besar, termasuk yang dikonsumsi beberapa hari sebelumnya, mulai bergerak ke arah rektum, menimbulkan dorongan untuk buang air besar.
Refleks gastrokolik itu normal
Refleks gastrokolik Merupakan respons tubuh yang normal. Justru, intensitasnya bisa bervariasi pada setiap orang. Ada yang hampir tidak merasakannya, ada pula yang langsung merasa ingin buang air besar setelah makan.
Bila dorongan ini terasa terlalu kuat, refleks gastrokolik Anda Kemungkinan terlalu aktif. Untungnya, ada beberapa Tips untuk mengendalikannya:
1. Hindari kopi
Kopi dapat merangsang usus besar dan memicu buang air besar dalam waktu empat menit setelah dikonsumsi. Efek ini terjadi baik pada kopi berkafein maupun tanpa kafein. Bila ingin mengurangi dorongan BAB setelah makan, hindari kopi di sela waktu makan.
2. Makan dalam Porsi Kecil
Semakin banyak makanan yang masuk ke lambung, semakin besar peregangan yang terjadi, sehingga Mengoptimalkan refleks gastrokolik. Solusinya bukan mengurangi asupan kalori, tetapi membagi makanan ke dalam porsi yang lebih kecil dan mengonsumsinya secara bertahap.
3. Kurangi Makanan Tinggi Lemak
Makanan tinggi lemak dapat memicu refleks gastrokolik karena lemak mengandung lebih banyak kalori dibanding karbohidrat atau protein dalam jumlah yang sama. Lemak Bahkan memperlambat pengosongan lambung, sehingga merangsang reseptor peregangan yang memicu respons usus besar.
4. Konsultasikan dengan Dokter
Bila refleks gastrokolik terasa sangat mengganggu, sebaiknya konsultasikan dengan dokter. Dokter dapat menentukan apakah kondisi ini berkaitan dengan Irritable Bowel Syndrome (IBS) atau gangguan pencernaan lainnya.
Dengan memahami refleks gastrokolik, Anda dapat mengelola respons tubuh dengan lebih baik dan menghindari ketidaknyamanan setelah makan.
[Gambas:Video CNN]
(tis/els)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA